GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Januari Hingga Agustus 1.087 Kebakaran Terjadi di Jakarta

Januari Hingga Agustus 1.087 Kebakaran Terjadi di Jakarta

JawaPos.com - Kebakaran di Jakarta bukanlah hal aneh lagi, pemukiman padat penduduk menjadi salah satu faktor rentannya terjadi kebakaran. Kepala Dinas Penanggulangan Kebak…

Januari Hingga Agustus 1.087 Kebakaran Terjadi di Jakarta

JawaPos.com - Kebakaran di Jakarta bukanlah hal aneh lagi, pemukiman padat penduduk menjadi salah satu faktor rentannya terjadi kebakaran. Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta Subejo menyampaikan sejak periode Januari hingga Agustus 2018 ada 1.087 kejadian kebakaran di ibu kota.

Subejo menjelaskan penyebab kebakaran memang beragam, mulai dari soal listrik, bak ar sampah, atau memang disengaja. Namun, yang mendominasi dari itu semua adalah penyebab kelistrikan. "Jadi total dari Januari-Agustus 1.087 kejadian. Paling banyak penyebabnya rentang waktu kelistrikan," terangnya saat ditemui JawaPos.com di Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (18/9).

Subejo menjelaskan penyebab kebakaran terkait listrik bukan hanya karena korsleting melainkan seperti adanya kegagalan pengoperasian peralatan rumah tangga. Misalnya, stopkontak yang bertumpuk, serta dispenser yang walau air habis masih tetap menyala.

"Tidak hanya korsleting, adanya juga kegagalan peralatan yang kita gunakan bisa karena instalasi sambungannya nggak benar, peralatan listrik juga nggak SNI," tuturnya.

Maka dari itu, Subejo telah mensosialisasikan juga gerakan untuk periksa kompor, gas dan instalasi listrik secara berkala, terutama pada wilayah yang rawan seperti pemukiman padat penduduk. "Kami ajari mereka memeriksa, Insya Allah kalau dilakukan ada penurunan, karena potensi kebakaran berkurang dan tingkat kesadaran masyarakat bertambah kalau cuek ya bisa celaka," tegasnya.

Terkait kemarau yang tengah dirasakan warga Jakarta, Subejo mengimbau agar masyarakat tetap waspada terutama pada bulan September-Oktober. Sebab, menurut data yang dimilikinya bulan tersebut rentan memiliki kenaikan kejadian kebakaran yang signifikan.

"Memang terkait dengan musim panas, itu yang perlu diantisipasi. Makanya di bulan-bulan itu petugas kami biasanya waspada plus responnya lebih cepat karena berdasarkan pengalaman September dan Oktober selalu ada peningkatan," terang Subejo.

"Cuaca kemarau jelas mempengaruhi, karena dengan panas tinggi mudah terjadi percikan api. Sekarang juga banyak tuh kebakaran yang sebenarnya nggak berpotensi kerugian tapi tetap jadi bagian dari data kami masuk ke dalam frekuensi kebakaran," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Sumber: Berita Jakarta

No comments